loading...

Bercinta dalam Lelap

Bercinta dalam Lelap

“Tidak ada yang tahu persis apa yang menyebabkan sexsomnia.”

Malam itu, seorang janda kembang sedang mematut diri. Sebut saja namanya Bunga. Disapu wajahnya dengan bedak tipis. Bibirnya diolesi lipstick tipis. Usia 28 tahun. Wajah oval. Bertulang pipi tinggi. Cantik.

Sekitar tahun yang lalu, suaminya meninggal dunia. Ketika penyakit strokenya kambuh untuk kesekian kalinya, nyawanya tak tertolong. Saat itu usia suami sekitar 62 tahun. Dia adalah seorang mantan bupati kepala daerah, dimana Bunga tinggal saat ini. Cukup singkat kebersamaan mereka. Hanya sekitar 3 tahun. Dulu, saat mau melangsungkan pernikahan, sempat tidak disetujui oleh anak-anak dari almarhumah istri pertama. Seiring berjalannya waktu, melihat kesungguhan dan ketulusan cinta Bunga pada ayahnya, anak-anaknya akhirnya memberi restu. Luluh hati mereka. Banyak warisan yang ditinggalkan mendiang suami, termasuk rumah besar yang sekarang ditempati Bunga.

Malam semakin larut. Jejaka yang ditungguinnya belum pulang juga. Jejaka itu memang tinggal dan kost dirumahnya. Ia bekerja disebuah minimarket diwilayah perumahan elite itu. Sebut saja namanya Anton. Usianya sekitar 25 tahun. Ramah, santun, cakep.

Sambil menunggu Anton pulang, pikirannya melayang. Teringat tahapan demi tahapan, saat sebelum ia dan Anton bercinta untuk pertama kalinya. Saat itu, sudah larut malam. Ia tak bisa tidur. Gelisah dan tak tahu apa yang mesti diperbuat. Pikarannya tersandera oleh belaian pria. Ia ingin bercinta. Semenjak kematian suaminya, ia tak pernah lagi merasakan.

Mengikuti naluri, ia berjalan mendatangi kamar Anton. Meski kamarnya Anton terletak dibagian samping, ada akses dari ruang keluarga. Setelah dekat, ia berjalan dengan berjingkat. Ternyata pintu kamarnya tak terkunci. Dilongoknya ke dalam. Hatinya berdesir hebat. Anton tidur dengan bertelanjang dada. Ia hanya memakai celana kolor. Selimutnya sudah tidak menutupi tubuhnya.

Dengan sedikit gemetar, Bunga masuk ke kamar Anton. Mungkin sangking terlelapnya, Anton tidak mengetahui kedatangan Bunga. Diberikannya untuk mencium kening Anton. Kedua mata Anton membuka. Sedikit kaget, Bunga berencana menarik wajahnya. Tak disangka, Anton memeluk tubuhnya. Dan terjadilah untuk pertama kalinya.

Usai bercinta, tak berapa lama, Anton telah terlelap lagi. Perlahan, Bunga bangun dari tempat tidur. Selimut dipasangkan ke badan Anton. Tak lupa, diciumnya kening pemuda itu sebagai tanda ucapan terima kasih. Ia pun beranjak dari kamar Anton untuk membersihkan diri.

Ditengah lamunannya, terdengar suara motor mendekat. Sudah bisa ditebak, itu pasti suara motor Anton. Bergegas ia menuju ke garasi, lalu membukanya.

“Kok sampai larut banget, Mas?” tanyanya.

“Iya, Bu. Tadi nglembur stock opname,” jawab Anton sambil memasukkan motor ke garasi. “Maaf ya Bu, jadi ganggu istirahatnya, lanjutnya.

“Ndak papa. Saya kan belum tidur kok,” ujar Bunga. Setelah pintu garasi dikunci, Anton pun berjalan dan masuk ke kamarnya. Bunga segera menyiapkan minuman hangat untuknya. Keinginan segera untuk bercinta pun tak kuasa dicegah. Ia memeluk dan menciumi Anton.

“Maaf Bu. Ada apa nih?” ujar Anton terperanjat. Ia pun sedikit meronta dan berusaha lepas dari pelukan.

“Ah Mas Anton. Pengin kaya kemarin nih,” jawab Bunga.

Namun Anton malah jadi gusar. Wajahnya kesal dan menunjukkan rasa tidak suka dengan apa yang dilakukan Bunga. Anton sendiri tak mengerti kenapa ibu kostnya tiba-tiba agresif.

Kenapa dengan Anton? Apakah ia sama sekali tidak ingat dengan apa yang pernah dia lakukan bersama ibu kostnya?

Sexsomnia    

Seiring dengan majunya peradaban manusia, banyak penyakit baru dan aneh muncul. Setelah popular dengan sleep walking atau berjalan sambil tidur, sekarang muncul lagi yang lebih aneh. Mereka menamakannya sexsomnia atau bercinta sambil tidur. Pada penyakit ini, seseorang mencumbu pasangannya, bahkan berhubungan seks, padahal orang itu dalam kondisi tidur. Bahkan mereka tidak mengingat sama sekali apa yang telah dilakukan, saat terbangun.

Sexsomnia pertama kali diidentifikasikan pada tahun 90-an. Dan semakin menjadi perhatian publik setelah keluarnya tulisan di Canadian Journal of Psychiatry, dimana penyakit itu digolongkan sebagai parasomnia. Parasomnia mengacu pada setiap perilaku yang tidak diinginkan, seperti berjalan dalam tidur, mengadu gigi, bahkan bangun dan membersihkan debu, padahal dia tetap terlelap tidur.

Sexsomnia adalah jenis parasomnia yang menyebabkan seseorang untuk terlibat dalam perilaku sexsual saat tidur. Saat seorang penderita sexsomnia mengalami serangan atau sedang kambuh, ia bisa melakukan beberapa aktivitas seksual saat tidur. Seperti onani atau masturbasi, hubungan seksual, bercumbu, serta vokalisasi seksual atau menirukan suara seperti hubungan seks, bahkan kekerasan seksual.

Orang-orang yang menderita sexsomnia sering tidak mengingat peristiwa pada saat tersadar atau bangun dari tidur. Kadang-kadang mereka terbangun ditengah-tengah tindakan seksual dan menjadi bingung dengan apa yang sedang dilakukannya.

Penyebab sexsomnia

Tidak ada yang tahu persis apa yang menyebabkan sexsomnia. Namun, para peneliti percaya sexsomnia berhubungan dengan kelainan pada sistem gairah otak, mirip dengan apa yang terjadi pada kelainan berjalan saat tidur.

Menurut Matius Walker, professor neurologi di National Hospital for Neurology and Neurosurgery, London, tindakan sexsomnia mungkin terjadi dalam beberapa jam pertama malam, dalam kondisi yang disebut tidur nyenyak. Penyakit ini lebih sering diderita oleh pria ketimbang wanita. Di Inggris, ada sekitar empat persen orang dewasa mengalami beberapa tingkat sexsomnia selama hidupnya.

Sexsomnia dapat menjadi lebih sering terjadi saat penderita berada dalam kondisi stress, dibawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. Apalagi jika sang penderita juga memiliki perilaku parasomnia lain sebelumnya, seperti berjalan dalam tidur, berbicara atau makan.

Sekitar 7,6 persen pasien disebuah pusat terapi gangguan tidur didiagnosis yang dilaporkan dalam Live Science. Survei yang dilakukan terhadap 832 orang ini, berhasil menemukan bahwa penyakit sexsomnia jauh lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita.

Penelitian awal telah menunjukkan bahwa beberapa orang tua, terutama pria, berhubungan seks dengan pasangan dan bahkan mencapai orgasme saat tidur. Biasanya mereka tidak ingat telah melakukan seks tidur dan hanya tahu dari pasangannya.

“Tidak ada studi sebelumnya tentang bagaimana sexsomnia sering terjadi,” kata salah seorang peneliti Sharon A. Chung dari departemen penyakit jiwa di University Health Network, Toronto. “Temukan kami yang mengatakan 8 persen orang yang dilaporkan sexsomnia adalah jumlah yang benar-benar banyak. Tapi harus ditekankan, bahwa kami hanya mempelajari pasien yang dirujuk ke klinik gangguan tidur. Jadi, kita patut berharap angka-angka kejadian akan jauh lebih rendah pada populasi umum,” tambahnya.

Sayang, jarang sekali pasien gangguan tidur yang mengaku sexsomnia ke dokter mereka. Bahkan, hanya empat dari 63 sexsomnia dalam survei yang telah membahas kondisi mereka khusus bersama dokter spesialis tidur.

Lebih lanjut, studi juga mengungkap bahwa sexsomnia dan penderita insomnia lainnya, memilih merokok dan mengonsumsi kafein dalam cara yang sama, saat gangguan ini menyerang ditengah malam. Tapi, jumlah individu dengan sexsomnia dua kali lebih besar untuk mengatakan, bahwa mereka menggunakan obat-obatan terlarang dari pada penderita insomnia lain.

Sexsomnia dapat memberikan kerugian baik psikologis dan fisik pada penderitanya. Orang yang menderita sexsomnia sering merasa malu dan bersalah. Karena itu, bisa mengganggu hubungan baik dengan pasangan mereka.

Pengobatan

Pengobatan sexsomnia bisa melibatkan modifikasi perilaku dan pengobatan. Jika merasa memiliki gejala sexsomnia, maka sebaiknya segera dikonsultasikan kepada dokter, agar mendapatkan pengobatan secara professional.

(39)

Related Post

This entry was posted in Info Kesehatan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.